Profil

Fahmi Rusvidianti: Perempuan Millennial Itu Tahan Banting


Pekerja keras. Itulah dua kata pertama yang menggambarkan sosok perempuan bernama lengkap Fahmi Rusvidianti ini. Bagaimana tidak. Sebelum ditemui di kawasan Diponegoro, Surabaya, perempuan berkulit sawo matang ini masih mau menyempatkan diri bertemu dengan pelanggannya sejenak.

Alumnus Program Studi Desain Produk Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya tersebut memulai karirnya sebagai wanita enterpreneur, bahkan sebelum ia lulus. Tepatnya, saat dirinya masih menjabat sebagai Sekretaris Kementrian Kominfo Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS di tahun 2015.

Berawal dari sebuah program kerja BEM yang saat itu sedang kekurangan suntikan dana, ia pun memutar otak untuk bisa menambalnya. Dengan bekal ilmu desain yang ia miliki, perempuan berhijab nan stylish ini kemudian berani mencoba peruntungannya menjual medali kayu untuk para wisudawan Jurusan Teknik Sipil ITS.

Jatilondo Souvenir and Gifts. Itulah nama usahanya. Tak disangka, Jatilondo memiliki prospek yang bagus. Namun, langkah Fahmi terpaksa sempat terhenti untuk mengembangkan usahanya itu.

“Prospeknya sebenarnya bagus. Awalnya ya masih idealis, ingin punya usaha sendiri dan sebagainya. Sampai akhirnya, idealisme itu harus dikalahkan sebentar buat menuhin permintaan orang tua. Ya. Sempat jadi pegawai kantoran. Tapi ya gitu, nggak nyaman. Akhirnya balik lagi. Kerja tapi nyambi juga sama ngerjain pesenannya di Jatilondo itu,” terangnya sambil geleng-geleng penuh tawa membayangkan bagaimana riewuhnya dulu dirinya.

Meski awalnya ia memiliki rekan yang membantu, namun seiring berjalannya waktu mereka pun memilih untuk mengundurkan diri karena prioritas lain. Lantas, Jatilondo pun Fahmi jalankan sendiri.

Tidak mudah memang bagi Fahmi untuk melakukan pendekatan pada keluarganya. Apalagi, ia adalah anak perempuan pertama dalam keluarga besarnya yang mampu mengenyam bangku perkuliahan. Maka tak heran, bila orangtua perempuan asal Gresik ini memiliki harapan yang begitu tinggi padanya. Kerja kantoran, penghasilan tetap, dan angan-angan klasik pada umumnya.

Percikan konflik pastilah ada. Bahkan, selepas Fahmi memutuskan untuk resign dan fokus pada Jatilondo, sang ayah pun masih mengodenya untuk kembali menjadi pegawai kantoran. Namun, sulung dari dua bersaudara ini ternyata mampu menghadapinya dengan sangat dewasa.

“Kalau ayahku ngirim-ngirim lamaran kerja gitu, nah aku balik ngirim foto-fotoku lagi pameran. Foto-foto aku lagi ngerjain di vendor. Aku tunjukkin ke mereka kalau ya ini duniaku. Aku suka dengan ini. Dan alhamdulillahnya, restu-restu itu mulai terbuka,” paparnya.

Jadi, lanjut Fahmi, millennials itu kadang perlu sedikit bandel buat meraih mimpi. Yang penting kita bisa membuktikan kalau itu memang dunia yang kita inginkan. Bisa survive, bahkan jadi orang yang lebih baik dari apa yang mereka inginkan,

Perfeksionis. Terkadang bisa menjadi senjata yang ampuh, namun juga bisa menjadi bumerang untuk si empunya. Karakter lain yang dapat ditemukan dalam diri perempuan kelahiran tahun 1993 ini.

Demi memiliki produk yang bagus dan benar-benar sesuai dengan keinginan pelanggan serta memenuhi standar yang ia inginkan, Fahmi pun rela mondar-mandir Gresik-Surabaya tiap harinya.

Keterbatasan modal yang menyebabkan Fahmi masih belum bisa memiliki mesin-mesin alat produksi lengkap pun tak membuatnya menyerah begitu saja. Langkah Fahmi nyatanya sangat luas. Sendiri tak membuat dirinya letih.

“Vendor Jatilondo ini banyak, nggak cuma satu dan di Gresik saja. Di Surabaya pun ada. Jadi ya gitu, bawa palet kayu, bahan-bahan, itu aku sendiri. Cuma ada motor,” kata perempuan yang juga gemar membaca ini.

Tidak capek? “Kalau capek itu pasti. Apalagi, nggak jarang orang-orang yang selalu komen, ‘iso ta mba bawa segitu banyaknya, cewek, motoran sendiri kemana-mana lagi’, dan hal-hal seperti itu. Tapi, balik lagi. Emang harus bener-bener tahu passion kita di mana, terus goals besar apa yang ingin diraih,” tukasnya.

“Ada pesan dari bapak-bapak tukang kayu yang pernah aku temui. Jadi cambukan semangat juga buat aku. ‘kalau bisa dibawa sendiri, ya sendiri aja mbak, untungnya buat diri sendiri, nggak masalah untung sedikit, daripada dikasihkan ke orang, apalagi masih awal-awal gini’,” kata Fahmi lagi.

Nasihat ini, lanjutnya, jadi catatan penting. “Jadi, bener juga apa yang beliau bilang. Dikumpulin dulu untungnya, biar bisa nambah modal. Buat beli mesin, melegalkan Jatilondo secara administratif, sampai bisa jadi franchise. Aamiin,” imbuhnya.

Saat ini, dalam sebulan Fahmi mampu mengerjakan sekitar 20 pesanan mahar dan sepuluh pesanan untuk custom gift. Berjuang sendiri ternyata menyenangkan baginya. Fahmi benar-benar menikmati proses pendewasaaan diri menjadi perempuan millennial tangguh guna mengejar mimpi-mimpinya. (ayu sm | foto : dok pribadi)

One Comment

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.