Profil

Setia Merangkul Anak Jalanan, Digusur Pantang Mundur


Menjadi perempuan karir dan ibu rumah tangga dengan dua putri, tak lantas menyusutkan semangat sosial Aristiana Prihatining Rahayu, warga Surabaya, dosen tetap di Universitas Muhamadiyah Surabaya.

Ketua Komunitas Cahaya Bunda ini aktif sebagai pegiat peduli anak-anak jalanan dan juga mengajar mahasiswa jurusan PAUD, meski diakui, ia bukan lulusan fakultas keguruan.

Pada 1998, Aristiana merampungkan program sarjananya di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) dengan gelar Sarjana Ilmu Sosial. Lalu 2011, ia menyelesaikan studi S2 nya di Universitas Airlangga dan berhasi meraih gelar Megister Media dan Komunikasi.

Pada PerempuanRiang.com, mantan penyiar di Radio KFM Surabaya, sekarang menjadi M-Radio ini kemudian bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya.

Aristiana Prihatining Rahayu (berkerudung hitam), saat berinteraksi dengan anak-anak Cahaya Bunda.


Lahir 31 Oktober 1975. Aristiana yang semasa kuliah aktif di banyak kegiatan mahasiswa ini menikah pada 2001 dan dikaruniai tiga putri. Satu putrinya meninggal sejak kecil, sementara si sulung duduk di bangku SMA dan bungsunya menginjak kelas 2 SMP.

Ditengah kesibukannya mengurus kedua putri dan menjadi dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Surabaya, ia selalu menyempatkan waktu untuk pergi ke Komunitas Cahaya Bunda. Maklum, Aristiana adalah pendiri sekaligus ketua dari PAUD Darurat, yang kini beralih nama menjadi Komunitas Cahaya Bunda.

Awal keterlibatannya dengan anak-anak jalanan, kata Aristiana, adalah panggilan hati. “Karena Allah. Jadi waktu itu saya melihat anak yang tidur di trotoar di jam-jam sekolah, dia tidak sekolah. Dan tidur di trotoar, mungkin Allah yang menggerakkan,” terang perempuan yang kini tinggal bersama keluarganya di kawasan Perak, Surabaya ini.

Melihat anak itu, Aristiana mengaku terenyuh. Sepanjang jalan ia bahkan menangis, karena kasihan, tapi tidak punya cukup keberanian untuk melakukan sesuatu.

“Karena lingkungan saya sebelumnya tidak pernah bersinggungan dengan yang seperti itu,” ujar Aristiana.

Hingga suatu saat ia memberanikan diri untuk memprakarsai PAUD darurat seorang diri. Kali pertama, sekolah didirikan di pinggir jembatan merah Plaza (JMP) di dekat PTPN (Perseroan Terbatas Nusantara).

Selama satu tahun ia merawat sekolah darurat ini sendiri. Lalu tahun 2012, satu persatu relawan turun membantu. Sayang, di tahun yang sama, PAUD darurat yang digagas oleh Aristiana digusur dan mereka memutuskan pindah di sebrang sungai tak jauh dari jembatan merah.

Tidak hanya memberikan edukasi bagi anak-anak jalanan serta warga setempat. Sejak beralih di dekat bantaran sungai Aristiana dan pengurus Cahaya Bunda juga memberikan edukasi bagi orang tua anak-anak, khususnya ibu-ibu terkait penting pendidikan bagi anak-anak.

Tak cukup sekali berpindah tempat karena penggusuran. Di tahun 2013 tempat yang biasa ia dan teman-teman gunakan untuk belajar bersama kembali di gusur. Akhirnya ia dan temannya memberanikan untuk mencari kontrakan yang bisa ditempati.

Atas kebaikan salah seorang dermawan, Komunitas cahaya Bunda kini menetap di bangunan yang dulunya adalah bekas gudang. Bangunan tersebut terdiri dari dua lantai dan cukup luas untuk dipakai kegiatan belajar.

Letaknya tak jauh dari Jembatan Merah Plaza (JMP). Dari pusat belanja ini kita tinggal lurus ke arah jembatan, lalu belok kiri menyusuri jalan pinggir sungai yang belum beraspal. Sekitar 200 meter dari jalan besar ada gudang berwarna krem, itu adalah letak Komunitas Cahaya Bunda.

Tak ada papan penanda di depan gedung. Sehingga sedikit membingungkan bagi orang yang pertama kali berkunjung ke sana.

Tidak hanya memberikan edukasi pada anak-anak jalan, Komunitas cahaya Bunda juga memberikan perhatiannya pada balita-balita di sekitar kawasan tersebut dengan program ‘sedekah susu’.

”Sekarang juga ngopeni anak anak balita juga, dijatah suusu tiap minggu, perminggu mereka dapat susu formula,” tutur Aristiana.

Selain itu ada juga program Si Bungkung Du (Duafa) yang rutin diadakan di hari Minggu, tak jarang juga diadakan di hari Jumat, untuk memenuhi amanat donatur. Program Si Bungkus Du ini selain untuk bersedekah juga bertujuan untuk memberdayakan ekonomi ibu-ibu sekitar.

Komunitas Cahaya Bunda juga bekerja sama dengan warga sekitar untuk membuat pesanan nasi yang akan dibagi-bagikan. Tiap bungkus dipatok harga Rp 8000-an, lengkap dengan lauk dan segelas air minum.

”Mereka dapat uang juga dapat nasi, biasanya di hari Jumat, mulai distribusi ke jalanan, tukang becak, masjid saat habis sholat juma, lalu dibagikan bungkusan. Biasanya dibagi shift masaknya. Masing masing punya gaji, yang mengatur komunitas,” terang Aristiana lagi.

Hingga kini, tujuh tahun sudah Aristiana berkutat di dunia anak jalanan. Berbagai pengalaman susah senang dilewati.

“Di awal sempat berat, karena kita belum mengenal karakter orang tua. Kasar secara verbal. Alhamdulillah sudah baik,” tuturnya sambil tersenyum. (jihan ristiyanti)

Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.