Surabaya (perempuanriang.com) – Fenomena konten tidak bermanfaat—seperti prank berlebihan, sensasi murahan, drama palsu, hingga konten yang tidak memiliki nilai edukatif—semakin mendominasi media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X kini dipenuhi unggahan yang viral karena kehebohan semata, bukan informasi atau kreativitas berkualitas. Kondisi ini menjadi kekhawatiran tersendiri mengingat sebagian besar pengguna media sosial adalah anak dan remaja yang masih berada di bawah umur.
Bagi anak-anak, media sosial bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga ruang belajar sosial. Ketika ruang tersebut dipenuhi konten yang tidak bermakna bahkan berbahaya, maka dampaknya bisa langsung memengaruhi pola pikir, perilaku, hingga perkembangan emosi mereka. Sementara itu, kreator digital yang hanya mengejar engagement cenderung membuat konten instan tanpa mempertimbangkan pengaruhnya terhadap audiens muda.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana mencegah anak-anak mengonsumsi konten tidak sehat, dan bagaimana mendorong kreator lebih bertanggung jawab?
Mengapa Konten Tidak Bermanfaat Begitu Mudah Viral?
Algoritma media sosial bekerja dengan cara mengutamakan konten yang membuat pengguna bertahan lebih lama di platform. Sayangnya, konten kontroversial, ekstrem, konyol, dan sensasional sering lebih cepat menarik perhatian dibanding unggahan yang informatif. Kreator akhirnya berlomba-lomba membuat konten yang mudah viral, tanpa memikirkan pesan yang disampaikan kepada jutaan pengguna muda.
Selain itu, tidak semua platform memiliki sistem moderasi yang ketat terhadap konten non-edukatif. Walaupun tidak melanggar aturan, konten “kosong” tanpa nilai tetap dapat membanjiri beranda dan membentuk pola konsumsi yang buruk.
Cara Agar Anak Tidak Mudah Mengonsumsi Konten Tidak Bermanfaat
Mencegah anak terpapar konten buruk bukan berarti melarang mereka bermain media sosial, tetapi mengajarkan mereka menggunakannya dengan aman, selektif, dan bertanggung jawab.
1. Terapkan Pengawasan Digital yang Rasional, Bukan Otoriter
Orang tua dapat menggunakan fitur parental control, membatasi waktu penggunaan, serta meninjau platform apa yang boleh diakses. Pendekatan yang komunikatif jauh lebih efektif dibanding larangan total yang justru membuat anak mencari celah.
2. Bangun Literasi Digital Sejak Usia Dini
Anak perlu diajarkan cara membedakan konten bermanfaat dan tidak bermanfaat. Ajarkan mereka untuk mempertanyakan “apa nilai dari konten ini?” sebelum menyukai atau membagikannya.
3. Jadikan Media Sosial Sebagai Ruang Dialog
Diskusikan konten yang mereka lihat. Tanyakan opininya, jelaskan dampaknya, dan bantu mereka memahami bahwa media sosial tidak selalu mencerminkan realitas.
4. Arahkan Anak Pada Akun yang Edukatif dan Aman
Platform kini memiliki banyak kreator yang menyajikan konten sains, sejarah, seni, hingga agama dengan cara menarik. Menggiring algoritma ke konten berkualitas membuat beranda anak lebih sehat.
5. Batasi Akses pada Jam Tertentu
Penggunaan berlebihan membuat anak lebih mudah mengonsumsi konten buruk secara acak. Pembatasan waktu membantu mereka menggunakan media sosial secara lebih bijaksana.
Bagaimana Kreator Dapat Mengurangi Konten Tidak Bermanfaat?
Sebagai penggerak utama ekosistem digital, kreator memiliki peran besar dalam membentuk pola konsumsi audiens, khususnya anak-anak.
1. Memahami Dampak Konten Terhadap Audiens
Kreator perlu menyadari bahwa setiap unggahan dapat mempengaruhi jutaan pengguna muda yang mudah meniru. Konten yang mengutamakan edukasi dan nilai positif memiliki dampak jangka panjang yang jauh lebih besar.
2. Menyisipkan Nilai Edukatif Tanpa Mengorbankan Hiburan
Konten informatif tidak harus membosankan. Banyak kreator besar yang membuktikan bahwa hiburan tetap bisa bernilai tinggi jika disajikan dengan kreatif.
3. Menghindari Gimmick Berbahaya dan Sensasi Murahan
Prank ekstrem, drama palsu, atau tindakan membahayakan tidak hanya menciptakan contoh buruk, tetapi juga menurunkan kualitas ruang digital.
4. Transparan dan Bertanggung Jawab
Kreator dapat menambahkan disclaimer, penjelasan, atau konteks agar konten tidak disalahartikan oleh penonton muda.
5. Kolaborasi dengan Lembaga dan Komunitas Edukasi
Banyak lembaga pendidikan dan organisasi literasi digital siap bekerja sama menciptakan konten yang bermanfaat bagi generasi muda.
Mewujudkan Ekosistem Media Sosial yang Sehat
Keberadaan konten tidak bermanfaat memang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, dengan pengawasan orang tua, edukasi sejak dini, serta tanggung jawab kreator digital, ruang media sosial dapat menjadi tempat yang lebih sehat bagi anak-anak.
Era digital seharusnya tidak hanya menjadi ajang hiburan singkat, tetapi juga sarana pembelajaran yang memperkaya wawasan dan karakter. Kolaborasi semua pihak—orang tua, platform, kreator, hingga pemerintah—sangat diperlukan untuk memastikan generasi muda tumbuh dengan pemahaman digital yang matang dan bijaksana. (tas)
Pantau info terbaru perempuanriang.com di Google News

