Surabaya (perempuanriang.com) – Industri drama Korea kembali menghadirkan serial horor remaja dengan nuansa thriller supranatural melalui If Wishes Could Kill (기리고). Serial web original Netflix yang tayang perdana pada 24 April 2026 ini langsung mencuri perhatian penggemar genre misteri dan horor sekolah berkat premisnya yang gelap, atmosfer mencekam, serta konflik psikologis yang intens.
Drama ini ditulis oleh Park Joong-seop dan disutradarai oleh Park Youn-seo. Sementara jajaran pemain mudanya diisi oleh Jeon So-young, Kang Mi-na, Baek Sun-ho, Hyun Woo-seok, dan Lee Hyo-je. Dengan menggabungkan elemen teknologi, kutukan, dan tekanan kehidupan remaja, If Wishes Could Kill menawarkan pengalaman menonton yang penuh ketegangan sekaligus emosional.
Teror Dimulai dari Sebuah Aplikasi
Cerita berpusat di SMA Seorin, tempat lima siswa menemukan aplikasi misterius bernama “Girigo”. Aplikasi tersebut diklaim mampu mengabulkan segala keinginan penggunanya. Awalnya, aplikasi itu terlihat seperti permainan digital biasa yang menarik perhatian para siswa. Namun situasi berubah menjadi mengerikan ketika seorang siswa meninggal secara mendadak setelah menggunakan aplikasi tersebut.
Kejadian itu menjadi awal dari rangkaian teror yang semakin sulit dijelaskan secara logis. Aplikasi “Girigo” mulai memunculkan hitungan mundur merah yang diyakini berkaitan dengan waktu kematian para penggunanya. Ketegangan semakin meningkat ketika lima tokoh utama menyadari bahwa mereka juga menjadi target berikutnya.
Yoo Se-ah, Lim Na-ri, Kim Geon-woo, Kang Ha-jun, dan Choi Hyeong-wook kemudian berusaha mengungkap asal-usul aplikasi misterius tersebut sebelum semuanya terlambat. Dalam proses penyelidikan, mereka dihadapkan pada berbagai kejadian supranatural, trauma masa lalu, hingga rahasia gelap yang tersembunyi di lingkungan sekolah.
Atmosfer Horor yang Konsisten
Salah satu kekuatan utama If Wishes Could Kill terletak pada pembangunan atmosfernya. Drama ini tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi juga memainkan unsur psikologis dan rasa cemas yang perlahan meningkat di setiap episode. Lorong sekolah yang gelap, suara notifikasi aplikasi, hingga tampilan hitungan mundur merah menjadi simbol teror yang terus menghantui para karakter.
Sinematografi drama ini juga berhasil memperkuat nuansa mencekam. Penggunaan pencahayaan redup dan tone warna dingin membuat suasana sekolah terasa suram dan penuh ancaman. Bahkan dalam beberapa adegan sederhana, penonton tetap dibuat merasa tidak nyaman karena tensi yang dibangun secara perlahan.
Selain itu, efek visual yang digunakan untuk menggambarkan elemen supranatural terlihat cukup rapi dan tidak berlebihan. Hal tersebut membuat drama tetap terasa realistis meski mengangkat cerita tentang kutukan digital dan fenomena misterius.
Penampilan Aktor Muda Jadi Daya Tarik
Jeon So-young sebagai Yoo Se-ah tampil cukup kuat sebagai karakter utama yang berusaha mengungkap misteri di balik aplikasi “Girigo”. Ia berhasil menampilkan emosi ketakutan, trauma, dan keberanian secara seimbang.
Kang Mi-na juga tampil menonjol lewat karakter Lim Na-ri yang emosional namun memiliki rasa empati tinggi terhadap teman-temannya. Chemistry antar pemain terasa natural sehingga konflik persahabatan dan kepanikan mereka dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Sementara itu, Hyun Woo-seok dan Lee Hyo-je memberikan warna berbeda melalui karakter yang menyimpan ketakutan serta rahasia masing-masing. Drama ini juga diperkuat oleh kehadiran Roh Jae-won sebagai Bang-wool, seorang dukun yang membantu para siswa memahami sisi mistis dari aplikasi tersebut.
Kritik Sosial di Balik Cerita Horor
Di balik unsur supranaturalnya, If Wishes Could Kill sebenarnya menyisipkan kritik sosial tentang obsesi remaja terhadap validasi, tekanan sosial, dan keinginan instan. Aplikasi “Girigo” digambarkan sebagai simbol dari godaan untuk mendapatkan apa pun secara cepat tanpa memikirkan konsekuensi.
Drama ini memperlihatkan bagaimana rasa iri, ketakutan, dan ambisi dapat mendorong seseorang mengambil keputusan berbahaya. Tema tersebut terasa relevan dengan kehidupan generasi muda yang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial.
Selain menghadirkan ketegangan, serial ini juga mengajak penonton melihat dampak psikologis dari tekanan lingkungan sekolah dan hubungan sosial di kalangan remaja.
Layak Masuk Daftar Tontonan Penggemar Horor
Bagi penggemar drama Korea bertema misteri sekolah seperti All of Us Are Dead, Night Has Come, atau Revenant, If Wishes Could Kill menjadi tontonan yang layak masuk daftar wajib tahun ini. Perpaduan horor supranatural, thriller psikologis, dan drama remaja membuat serial ini terasa intens sekaligus emosional.
Dengan alur yang cukup cepat, visual yang mendukung, serta konflik yang terus berkembang di setiap episode, If Wishes Could Kill berhasil menghadirkan pengalaman menonton yang menegangkan hingga akhir cerita. Drama ini juga menunjukkan bagaimana genre horor remaja Korea terus berkembang dengan pendekatan cerita yang lebih modern dan dekat dengan kehidupan digital masa kini. (tas)
Pantau info terbaru perempuanriang.com di Google News

