Surabaya (perempuanriang.com) – Budaya patriarki masih melekat dalam kehidupan keluarga Indonesia. Menariknya, banyak perilaku patriarki dilakukan oleh orangtua tanpa mereka sadari, karena pola pikir ini diwariskan turun-temurun dari generasi sebelumnya. Pola asuh, pembagian peran, hingga ekspektasi gender sering kali dipengaruhi oleh norma lama yang menempatkan laki-laki pada posisi dominan.
Berikut daftar perilaku patriarki yang paling sering terjadi di rumah, bagaimana bias ini terbentuk, serta cara menghentikannya agar tercipta lingkungan keluarga yang lebih setara dan sehat.
A. Tugas Rumah Tangga Dianggap Wajib untuk Anak Perempuan
Dalam banyak keluarga, terdapat kebiasaan lama yang menempatkan anak perempuan sebagai pihak yang harus mengurus pekerjaan rumah tangga. Mereka diminta menyapu, memasak, mencuci, atau membereskan rumah, sementara anak laki-laki sering dibiarkan bebas dari tanggung jawab serupa. Pola ini bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan berasal dari keyakinan tradisional bahwa perempuan adalah pengurus rumah, sehingga anak perempuan dianggap sudah seharusnya menjalani peran itu sejak kecil. Tanpa disadari, pembiasaan seperti ini membuat anak perempuan merasa bahwa tugas domestik melekat sebagai kewajiban berdasarkan gender, bukan bagian dari tanggung jawab bersama anggota keluarga.
B. Anak Laki-Laki Tidak Boleh Menangis
Dalam situasi tertentu, orangtua masih sering menegur anak laki-laki ketika mereka menangis, dengan alasan bahwa laki-laki harus kuat dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Kalimat seperti “jangan cengeng” atau “anak laki-laki harus tegar” keluar secara spontan sebagai refleksi dari cara pandang lama terhadap maskulinitas. Pada akhirnya, anak laki-laki tumbuh dalam lingkungan yang menekan ekspresi emosional mereka, sehingga mereka belajar bahwa menunjukkan perasaan adalah hal yang memalukan. Pola ini menciptakan jarak antara mereka dan pemahaman terhadap emosinya sendiri, dan menanamkan anggapan keliru bahwa kepekaan emosional bukan bagian dari diri laki-laki.
C. Pendidikan Anak Laki-Laki Menjadi Prioritas
Di beberapa keluarga, pendidikan untuk anak laki-laki masih dipandang sebagai investasi utama karena mereka dianggap sebagai penerus keluarga. Tanpa disadari, orangtua lebih mudah memberi fasilitas pendidikan tambahan, bimbingan belajar, atau dukungan akademik bagi anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Sikap tersebut tidak selalu berupa pelarangan terhadap anak perempuan, tetapi sering tampak dalam bentuk prioritas halus yang menunjukkan bahwa masa depan laki-laki dianggap lebih penting. Pola seperti ini membuat anak perempuan kehilangan kesempatan yang sama untuk berkembang, dan menumbuhkan pemahaman bahwa kontribusi mereka tidak dipandang setara.
D. Ibu Dianggap Penanggung Jawab Utama dalam Pengasuhan Anak
Dalam kehidupan sehari-hari, ibu sering ditempatkan sebagai pihak yang harus mengurus seluruh kebutuhan anak, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan emosional. Sementara itu, ayah diposisikan hanya sebagai pencari nafkah, sehingga keterlibatannya dalam pengasuhan sering kali lebih kecil. Kondisi ini menciptakan beban mental yang besar bagi ibu karena mereka harus mengatur, mengingat, dan memastikan semua urusan keluarga berjalan dengan baik. Anak-anak kemudian tumbuh melihat pola peran yang tidak seimbang ini dan memahaminya sebagai sesuatu yang wajar, sehingga siklus pembagian peran berdasarkan gender terus berulang.
E. Anak Perempuan Mendapatkan Batasan Lebih Ketat
Orangtua kerap menetapkan aturan yang jauh lebih ketat pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki, terutama terkait jam keluar rumah, pergaulan, dan aktivitas di luar. Pembatasan tersebut biasanya muncul dari rasa khawatir atau keinginan untuk melindungi, tetapi secara tidak langsung membentuk keyakinan bahwa anak perempuan lebih rentan dan kurang mampu menjaga dirinya sendiri. Sementara anak laki-laki diberi ruang gerak yang lebih luas karena dianggap lebih kuat, anak perempuan sering merasa dibatasi secara berlebihan. Akibatnya, mereka tumbuh dengan persepsi bahwa kebebasan mereka selalu harus dipertimbangkan dua kali lipat.
F. Laki-Laki Diposisikan sebagai Pengambil Keputusan Utama
Di berbagai rumah, keputusan penting dalam keluarga masih sering bergantung pada ayah atau figur laki-laki lainnya. Mulai dari urusan keuangan, pendidikan anak, hingga perencanaan jangka panjang keluarga, pendapat laki-laki cenderung lebih diutamakan. Situasi ini dipengaruhi oleh budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin keluarga, sehingga keputusan yang berasal dari mereka dianggap lebih valid. Ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus, anggota keluarga lainnya—terutama perempuan—terbiasa untuk tidak menyuarakan pendapat atau menerima bahwa suara mereka memiliki bobot yang lebih kecil.
G. Pilihan Masa Depan Anak Ditentukan oleh Stereotip Gender
Dalam banyak kasus, orangtua secara tidak sadar mengarahkan anak pada pekerjaan atau jalan hidup yang sesuai dengan stereotip gender lama. Anak perempuan didorong memilih bidang yang dianggap lembut atau keperawatan, sementara anak laki-laki diarahkan ke bidang teknik atau pekerjaan fisik. Meskipun terlihat seperti saran yang baik, pola ini membatasi ruang eksplorasi anak dan membuat mereka merasa pilihan tertentu lebih pantas hanya karena gender mereka. Ketika stereotip ini terus dipertahankan, potensi anak menjadi terhenti pada batasan yang seharusnya tidak pernah ada.
Mengapa Perilaku Patriarki Bisa Terjadi?
Perilaku patriarki yang sering muncul di lingkungan keluarga biasanya lahir dari warisan budaya yang sudah berlangsung selama beberapa generasi. Banyak orangtua tumbuh dalam sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan dan perempuan sebagai pihak yang harus mengurus rumah, sehingga pola tersebut dianggap wajar dan kemudian diteruskan kepada anak-anak mereka tanpa pernah benar-benar dipertanyakan. Minimnya edukasi tentang kesetaraan gender membuat orangtua sulit mengenali bahwa pola yang mereka anggap normal sebenarnya merupakan bentuk bias. Selain itu, keyakinan bahwa “dari dulu memang seperti ini” membuat perubahan sulit terjadi karena setiap perbedaan dipandang melawan tradisi. Kurangnya contoh nyata tentang pembagian peran yang setara di rumah juga membuat perilaku patriarki terus berulang, karena tidak ada model praktik yang menunjukkan bahwa kerja domestik dan tanggung jawab keluarga dapat dibagi secara adil tanpa memandang gender.
Cara Efektif Menghentikan Perilaku Patriarki di Rumah
Menghapus perilaku patriarki di lingkungan keluarga membutuhkan perubahan yang dimulai dari kesadaran kecil namun konsisten setiap hari. Edukasi mengenai kesetaraan gender dapat diperkenalkan sejak dini, dengan memberikan pemahaman bahwa semua anak—baik laki-laki maupun perempuan—memiliki hak dan kesempatan yang sama. Pembagian tugas rumah tangga juga dapat dilakukan secara adil untuk seluruh anggota keluarga, sehingga anak terbiasa melihat bahwa pekerjaan domestik bukanlah kewajiban berdasarkan gender. Komunikasi yang terbuka dan bebas bias dapat membantu setiap anggota keluarga menyampaikan pendapat tanpa takut dinilai berdasarkan stereotip. Ungkapan seperti “perempuan harus lembut” atau “laki-laki tidak boleh menangis” perlu dihindari, diganti dengan dorongan untuk menjadi diri sendiri tanpa batasan peran kaku. Keterlibatan ayah dan ibu secara setara dalam pengasuhan anak serta pengambilan keputusan keluarga akan memberikan contoh nyata bahwa kesetaraan bisa diterapkan di rumah, sehingga menjadi kebiasaan baru yang positif bagi seluruh anggota keluarga. (tas)
Pantau info terbaru perempuanriang.com di Google News

