Berita

Puan Bangkit, Perempuan Berdaya dan Otonom Pasca Pandemi


Surabaya, melalui panitia International Women’s Day, ikut rayakan peringatan Hari Perempuan Internasional dengan mengadakan seminar dan webinar “Puan Bangkit Hadapi Resolusi Pasca Pandemi”. Seminar dilaksanakan di Teras Belakang Rumah, Rungkut Alang-Alang, pada Minggu, 7 Maret 2021.

Seminar yang juga diikuti oleh sekitar 160 partisipan secara daring (webinar) ini, memfokuskan pada permasalahan perempuan yang ditemukan selama pandemi dan juga solusi yang bisa ditawarkan untuk menanggulangi permasalahan tersebut.

Berdaulat Selama Pandemi

Tidak hanya di bidang kesehatan, pandemi juga ikut mengguncang keberlangsungan bidang ekonomi, sosial, hingga budaya. Dan salah satu golongan yang paling terdampak dari pandemi adalah perempuan. Wiwik Afifah,S.Pi,SH.,MH, salah satu pembicara Puan Bangkit Hadapi Resolusi Pasca Pandemi, mengatakan bahwa, di bidang ekonomi saja, banyak perempuan yang di PHK akibat pandemi. “Perempuan sering kali hanya dianggap sebagai ‘pencari nafkah tambahan’ dan kemampuannya tidak dihargai di tempat kerja, sehingga menjadi sasaran empuk PHK,” ujarnya.

“Pandemi juga memunculkan temuan positif; perempuan juga mulai berdaya,” lanjutnya. Temuan tersebut ialah adanya beberapa kelompok perempuan yang mulai menanam sendiri bahan makanan untuk keluarga mereka. Selain itu, banyak pula perempuan yang semakin sadar teknologi dan mulai menggunakan teknologi tersebut untuk mencari pemasukan baru. Dengan demikian, pandemi juga menjadikan beberapa kelompok perempuan semakin berdaya dan berdaulat.

Butuh Otonomi

Selaras dengan penjelasan Wiwik, Dr. Pinky Saptandari, Dra.MA, dosen kajian gender FISIP Unair yang menjadi salah satu pemateri, mengatakan bahwa, menjadi diri yang berdaulat membutuhkan otonomi.

“Diri, khususnya perempuan, perlu untuk memiliki otonomi keuangan, otonomi mobilitas, dan otonomi pengambilan keputusan. Jika otonomi telah dimiliki, maka menjadi diri yang bebas dan berdaulat dapat dicapai,” ujarnya.

Otonomi juga perlu dimiliki hingga tataran psikologis, karena otonomi juga berkaitan dengan kebebasan dan kemerdekaan berpikir. Dengan adanya kebebasan berpikir, perempuan bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan kemudian mampu mendukung perempuan lain di sekitarnya, tambahnya.

Kenali Emosi

Pentingnya otonomi, khususnya otonomi psikologis, juga diamini oleh Dr. Dra. N.K. Endah Triwijati,MA, pendiri Savy Amira yang juga menjadi salah satu pemateri. Endah mengatakan, mengenali ragam emosi diperlukan untuk menjadi pribadi yang otonom.

“Istilah ‘emosi’ sering kali dipandang negatif, padahal dengan mengenali ragam emosi, kita mampu memberikan respon yang tepat saat menghadapi suatu peristiwa,” ujarnya.

Dengan mengenali ragam emosi, seseorang mampu meminimalisir emosi-emosi negatif agar tidak memengaruhi pengambilan keputusan yang negatif pula. Dan sebaliknya, jika seseorang makin cerdas mengenali emosi positif, mereka mampu menciptakan respon yang baik dan kemudian mampu membawa dampak yang positif pula bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Dukungan Konkret

Kasus kekerasan selama pandemi memasuki angka yang mengkhawatirkan. Seperti yang disebutkan Wiwik saat seminar, angka kasus perceraian (baik talak maupun gugat) telah mencapai angka 55.000 kasus di akhir tahun 2020. Angka tersebut jauh lebih banyak dari kasus di tahun sebelumnya. Penyebab kasus perceraian bervariasi, dan kekerasan rumah tangga menjadi salah satu penyebab terbesar.

Selaras dengan hal ini, Syska La Veggie, perwakilan IWD Surabaya yang juga menjadi pembicara, menitikberatkan pada pentingnya dukungan orang sekitar. “Dukungan orang-orang terdekat menjadi hal yang sangat penting untuk keluar dari lingkaran kekerasan domestik. Maka dari itu, menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif sangatlah penting,” ujarnya.

Tidak hanya menciptakan lingkungan yang kondusif, mencari dan menciptkan media ekrpresi juga menjadi hal yang penting untuk mentas dari kekerasan domestik. Sebagai seniman, Syska mengekspresikan perjuangannya melalui karya seni, dan karya yang ia ciptakan mengantarkannya pada jejaring yang terbuka dan menerima Syska apa adanya.

“Sebagai perempuan, penting bagi kita untuk mandiri, berjejaring, berdaya, sehingga kita mampu menghadapi tantangan yang akan datang,” tambahnya.

Pemberdayaan Perempuan

Di akhir seminar, seluruh pemateri setuju bahwa memperjuangkan dan memberdayakan kaum marjinal, khususnya perempuan, merupakan perjuangan yang berkelanjutan. Perjuangan tidak boleh berhenti sebagai simbol belaka. Salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu menciptakan “ruang” bagi perempuan, hal ini seperti yang disampaikan Pinky.

“Penting untuk mengadakan upaya-upaya penguatan perempuan, dan memberi platform untuk perempuan bisa menyuarakan pikiran dan pendapatnya, sehingga mampu memunculkan ketangguhan dan otonomi,” ujarnya.

Hal ini kemudian ditekankan oleh Wiwik, yang berpendapat bahwa setiap perempuan punya potensi menjadi penggerak, potensi menjadi kuat, dan sebagainya.

“Ayok kenali diri kita, sayangi diri kita untuk menggali potensi diri kita yang lain. Gali pula potensi dari perempuan lain, yang masih terjerat di lingkaran kemiskinan, dan perkawinan anak, karena kita perlu bermanfaat untuk lingkungan,” ujarnya.

Format Baru

Perayaan kali ini bukanlah yang pertama. Di tahun sebelumnya, Surabaya juga mengadakan “Women March Surabaya”. Namun dengan adanya pandemi, perayaan Inaternational Women’s Day kali ini perlu mengadaptasi format baru.

“Saat ini menggunakan format baru. Karena pandemi, kami tidak bisa melakukan long march, sehingga perayaan dilakukan secara daring, yang bisa dihadiri undangan terbatas saja. Dengan komposisi anggota yang lebih independen dan terbuka untuk relawan, namun tetap mengusung dan memperjuangkan tujuan yang sama; support women,” ujar Syska La Veggie sebagai ketua pelaksana International Women’s Day Surabaya 2021.

Tema “Puan Bangkit Hadapi Resolusi Pasca Pandemi” diangkat agar perempuan tetap optimis menghadapi pandemi dan pasca pandemi. “Banyak hal yang menimpa perempuan selama pandemi, maka dari itu, perayaan kali ini kami tetap ingin memberikan ruang untuk perempuan bisa berbagi dan berekspresi. Bahwa pandemi tidak menghentikan kami untuk saling mendukung satu sama lain,” pungkasnya.


Post Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.